Anak Buah Megawati Dukung BIN Ungkap Ustad dan Masjid Radikal, Bahkan Charles Tuduh Pemuka Agama Kajianya Berbau Radikalisme

Pernyataan Badan Intelejen Negara (BIN) soal masjid yang terpapar radikalisme mengundang pro dan kontra. Anggota Komisi I DPR RI dari fraksi PDI Perjuangan Charles Honoris menilai, data yang dimiliki BIN harus menjadi peringatan semua pihak terkait bahaya radikalisasi.

“Saya rasa ini alarm bagi kita semua. Pemerintah harus memerhatikan apa yang disampaikan oleh BIN,” kata Charles di Gedung DPR RI, Jakarta Selatan, Rabu (21/11).

Charles menjelaskan, data yang diberikan oleh BIN dapat jadi masukan bahwasanya tempat-tempat ibadah harus mendapatkan perhatian khusus di Indonesia. Apalagi, pemuka agama juga kerap menyampaikan kajiannya yang berbau radikalisme.

“Khotbah-khotbah yang mengandung radikalisme lebih baik tidak diberikan,” ungkap dia.

Baca Juga  Mitos Mitos Nasionalisme, Biang Kerok Perpecahan Ummat

Anak buah Megawati itu juga membantah bahwa anggapan kubu oposisi yang bilang BIN telah membuat bangsa gaduh dengan mengutip masjid terpapar radikalisme. Dia meyakini bahwasanya lembaga di bawah komando Budi Gunawan itu punya pertimbangan lain.

“Mungkin ada pertimbangan intelijen mengapa data seperti ini harus dibuka ke publik. Yang disampaikan positif kok bukan untuk menakuti tapi agar waspada. Ini fakta penyebaran paham radikal, intoleransi dan kekerasan, itu fakta,” pungkasnya.

Sebelumnya, Badan Intelijen Negara (BIN) mengungkap ada 41 dari 100 masjid di lingkungan kementerian, lembaga serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terindikasi telah terpapar radikalisme. Sementara itu, ada sekitar 500 masjid di seluruh Indonesia yang terindikasi terpapar paham radikal.

Baca Juga  Rocky Gerung: Filsafat UI Dipimpin Prof yang Tak Paham Secuilpun Filsafat, Ajaib? Silahkan Cek

Diketahui, data paparan radikalisme itu merupakan hasil survei terhadap kegiatan khotbah yang disampaikan beberapa penceramah. Survei dilakukan oleh P3M NU yang hasilnya disampaikan kepada BIN sebagai early warning dan ditindaklanjuti dengan pendalaman dan penelitian lanjutan oleh BIN.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Arief Tugiman, Kasubdit di Direktorat 83 BIN, dalam diskusi Peran Ormas Islam dalam NKRI, di Kantor Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) Jakarta, Sabtu (17/11).

Keberadaan masjid di Kementerian/Lembaga dan BUMN perlu dijaga agar penyebaran ujaran kebencian terhadap kalangan tertentu melalui ceramah-ceramah agama tidak mempengaruhi masyarakat dan mendegradasi Islam sebagai agama yang menghormati setiap golongan.

“Hal tersebut adalah upaya BIN untuk memberikan peringatan dini dalam rangka meningkatkan kewaspadaan, tetap menjaga sikap toleran dan menghargai kebhinekaan,” kata Jubir Kepala BIN, Wawan Hari Purwanto dalam siaran pers yang diterima Koran ini.

Baca Juga  Revolusi Mental Versi Wiranto: Mengembalikan Islam Rahmatan Lil Alamin Melawan Terorisme dan Radikalisme

(aim/JPC) jawapos.com

Tinggalkan Komentar Dengan Bijak ya! Terima Kasih