Asyari Usman: Peringatan Keras dari Asosiasi Buaya Internasional

Menyusul kisruh “tampang Boyolali”, kemarin kongres Asosiasi Buaya Internasional (International Crocodile Association) atau ICA mengeluarkan peringatan keras kepada capres Prabowo Subianto (PS). Ketua ICA, Jonny Crocs, memperingatkan agar PS tidak menggunakan peribahasa yang berbunyi “air mata buaya”.

Crocs mengatakan, ungkapan itu sangat merendahkan komunitas buaya se-dunia. Karena itu, sebelum PS terlanjur menggunakan ungkapan itu, “Lebih baik kami keluarkan peringatan keras sekarang.”

Menurut Jonny Crocs, ICA melaksanakan sidang khusus di Darwin, Australia Utara, guna membahas “air mata buaya”.

“Peribahasa itu sangat melecehkan kami,” kata Crocs.

“Bagaimana tak melecehkan,” kata Crocs, “masakan setiap kali kami menangis, manusia menganggap kami pura-pura.”

Baca Juga  Pembubaran HTI Masuk "10 TOP BERITA" di China, TANYA KENAPA

Crocs menambahkan, komunitas buaya global mengikuti perkembangan “tampang Boyolali”. Mereka menyaksikan di YuoTube rekaman video aksi protes terhadap PS terkait candaan capres oposisi itu tentang kondisi warga Boyolali.

“Kami tahu Pak Prabowo tidak bermaksud menghina warga Boyolali,” ujar Jonny Crocs.

Tapi karena Pak Prabowo telah meminta maaf kepada rakyat Boyolali, maka komunitas buaya pun merasa berhak menuntut agar istilah “air mata buaya” tidak lagi digunakan oleh manusia, terutama Pak PS. Kenapa lenih berhak, tak lain karena makna “air mata buaya” itu lebih menyakitkan dibanding “tampang Boyolali”, kata Crocs.

Mendengar permintaan ICA itu, Prabowo mengatakan bahwa dia akan mematuhinya. Capres yang diperkirakan akan menang telak di pilpres 2019 itu mengatakan kepada wartawan TV Crocodile Channel bahwa dia akan mengeluarkan Keppres larangan memakai pepatah “air mata buaya” dengan satu syarat.

Baca Juga  Asyari Usman: DATA GANGGUAN JIWA, Wow Fantastis!!!

Syarat dari Prabowo itu adalah agar semua buaya, di mana pun juga, tidak boleh lagi menangis. Meskipun misalnya ada buaya yang sedang sedih atau manahan sakit.

Sebab, ujar Prabowo, di Indonesia banyak buaya, terutama “buaya darat”, yang menangis setelah menyambar kekayaan rakyat. Juga setelah buaya-buaya darat itu menerkam kambing rakyat. Setelah mencuri kekayaan alam rakyat. Dan setelah menerkam daging impor.

Prabowo menegaskan, selagi buaya tidak berhenti menangis, maka manusia akan tetap terus menggunakan ungkapan “air mata buaya”. Mendengar tuntutan Prabowo itu, Jonny Crocs berjanji akan menyampaikannya kepada warga buaya, termasuk kepada komunitas “buaya darat” Indonesia.

(Penulis adalah wartawan senior)

Tinggalkan Komentar Dengan Bijak ya! Terima Kasih

Tinggalkan Balasan