Demokrat Menyayangkan Kapasitas Ketua Timses Jokowi Asal Bicara dan Asal Bapak Senang


Pernyataan Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) pasangan nomor urut 01, Joko Widodo-Ma’ruf Amin, Erick Thohir yang mengklaim ekonomi kreatif baru ada di era pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dibantah keras.

Wakil Sekjen Partai Demokrat Putu Supadma Rudana sangat menyayangkan pernyataan Erick yang mengklaim bahwa Presiden Jokowi merupakan presiden pertama yang memberi perhatian pada industri kreatif di Indonesia.

Menurutnya jabatan Erick sebagai ketua pemenangan sangat tidak cocok. Ia khawatir, pernyataan dari tim pemenangan akan jauh dari data, hanya asal bicara dan asal bapak senang (ABS).

“Saya rasa Erick Thohir sangat tidak paham dan memalukan sebagai Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, Erick harusnya melihat data sebelum bicara,” ujar Putu dalam keterangan tertulis, Kamis (22/11).

Baca Juga  Ahahaha!! Nyinyiri Ide Uang Braille, TKN Jokowi-Maruf Terkesan Pilon

Anggota Komisi X DPR dari Fraksi Demokrat, ini menjelaskan di tahun 2006, Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah menginstruksikan pengembangan ekonomi kreatif di negeri ini.

Di tahun selanjutnya, SBY melakukan peluncuran studi pemetaan kontribusi industri kreatif Indonesia pada Trade Expo Indonesia. Adapun di tahun 2008, SBY meluncurkan cetak biru Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 dan Pengembangan 14 Subsektor Industri Kreatif Indonesia.

Tak hanya itu, pada 2009 Pemerintahan SBY menggelar Pekan Produk Kreatif dan Pameran Ekonomi Kreatif. SBY juga mencanangkan Indonesia Kreatif pada 2029.

“Jadi badan ekonomi kreatif itu ada sejak zaman SBY, namanya pariwisata ekonomi kreatif. Jadi sangat disayangkan kapasitas ketua timses pak Jokowi seperti ini. Pernyataan Erick sangat prematur dan menunjukan ketidakpahaman tentang ekonomi kreatif serta membuat malu Presiden Jokowi,” sesalnya.

Baca Juga  Didesak Pilih Jokowi Ma'ruf atau HTI, Yusril: saya tidak konteks dukung mendukung tapi lawyer, harus jernih

Putu berharap Erick berlaku jujur. Sebab pemerintahan Jokowi berusaha mengkerdilkan Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Hal ini ditandai pada penurunan anggaran bagi Bekraf di APBN 2019.

Penurunan anggaran tersebut sangatlah signifikan. Yakni sebesar Rp1,5 triliun menjadi Rp659 miliar. Padahal Bekraf berfokus pada kearifan lokal dan memberikan kontribusi pengembangan potensi masyarakat secara maksimal.

“Saya justru melihat Erick Thohir ini yang aneh dan tidak paham substansi karena mengaku-ngaku, asal bicara dan asal bapak senang (ABS). Lebih baik Pak Jokowi mempertimbangkan kembali, apakah Erick Thohir pantas sebagai TKN Jokowi-Ma’ruf,” pungkasnya. [rmol.co]

Tinggalkan Komentar Dengan Bijak ya! Terima Kasih