Guntur Romli: Gerakan 212 Upaya Jadikan Indonesia Seperti Suriah

Jubir Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Guntur Romli, menilai gerakan massa membuat aksi hingga Reuni 212 merupakan upaya menjadikan Indonesia seperti Suriah yang penuh kekacauan. Romli menyebut ada kesamaan pola yang dilakukan oleh gerakan 212 dengan apa yang terjadi di Suriah.

“Kalau saya pribadi memandang bahwa 212 dari aksi menjadi reuni itu merupakan upaya menjadikan Indonesia sebagai Suriah. Ingin menjadi Indonesia menjadikan seperti Suriah yang penuh dengan kekacauan. Dan pola-polanya sebenarnya sudah mereka lakukan,” kata Guntur Romli saat ditemui di Gado-gado Boplo, Jalan Dr Satrio, Kuningan, Jakarta Selatan, Sabtu (1/12/2018).

“Ada kemiripan pola. Agama menjadi alat politik, politisasi agama,” sambungnya.

Baca Juga  Difitnah Jadi Donatur Upaya Makar, Tommy Soeharto Disarankan Lapor Polisi

Romli menjelaskan, politisasi agama yang terjadi di Suriah bertujuan menggulingkan pemerintahan Presiden Bashar Al Assad. Menurutnya, upaya oposisi pemerintahan Bashar Al Assad menggunakan masjid untuk mengalang massa.

“Ada tulisan dari Damaskus yang memetakan. Dia membandingkan antara Suriah di awal ketika masjid besar di Damaskus dijadikan sebagai penggalang massa kelompok-kelompok oposisi Bashar Al Assad dan itu juga yang terjadi di Istiqlal pada 2016 lalu. Jadi ada pola-pola yang sama yang mereka lakukan,” sebut Romli.

Romli mengatakan kemiripan lain adalah cara bagaimana kelompok tersebut menggiring isu negatif tentang pemerintah. Menurutnya, hal yang dilakukan kelompok itu mengarah ke fitnah.

“Kalau di Suriah, Assad disebut dengan Syiah. Kalau di sini, isu Jokowi adalah PKI itu kan santer sekali,” ujar Romli.

Baca Juga  Seandainya Insiden Bandara Sintang Menimpa Tokoh Non Muslim, Pasti Geger!

Hanya, sambung Romli, hingga kini upaya menjadikan Indonesia seperti Suriah itu tidak pernah berhasil. Sebab, Indonesia dan Suriah memiliki isu-isu politik yang berbeda.

“Bahwa isu-isu politik antara Suriah dan Indonesia itu berbeda. Bashar Al Assad itu mendapat kekuasaan dari ayahnya, kalau di sini demokratis semua terbuka. Hanya kalau mau ganti presiden silakan nanti 2019 ada pemilu,” jelasnya. [detik.com]

Tinggalkan Komentar Dengan Bijak ya! Terima Kasih