Ini Bahayanya Bila Ulama Disetir Penguasa


Anggota Majelis Intelektual Muda Indonesia, Henri Shalahuddin mengatakan sahabat Fudail bin Iyadh pernah menyampaikan khairul umaro man yushahibul ulama. Sebaik- baik pemimpin adalah yang mendekati ulama dan yang seburuk- buruk ulama adalah orang yang mendekati para penguasa.

“Tugas- tugas ulama bukan berpolitik praktis. Tetapi ulama harus mencetak penguasa yang baik. Bahaya apabila ulama disetir oleh penguasa, sebab ketika ulama keliru maka akan memberikan pengaruh buruk pada umat, maka kita harus menjaga ulama- ulama kita,” katanya dalam diskusi ‘Arah Politik Ulama’ di AQL Islamic Center, Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (20/11/2018).

Ia menjelaskan meskipun demikian, bukan berarti agama harus dipisahkan dengan politik. Sebagaimana, Imam al Ghazali pernah mengatakan agama dan politik itu adalah saudara kembar. Agama adalah pondasinya dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak ada pondasinya akan hancur. Sebaliknya segala sesuatu tanpa penjaga maka akan hilang.

Baca Juga  Bongkar Strategi Licik Media dan Penguasa - Skenario Besar Di Balik “OTT” Wartawan Detik.com

“Agama akan berjalan dengan baik, ketika dijaga oleh penguasa yang baik. Maka kita mendorong ulama untuk mencetak Al Fatih- Al Fatih dalam segala bidang,” ujarnya.

Ustaz Henri menjelaskan ada sebuah kekeliruan dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara. Sejatinya Islam tersebar ke seluruh pelosok Nusantara adalah peran ulama, bukan melalui perdagangan.

“Fakta adalah peran ulama yang nyambi dagang, bukan pedagang yang nyambi dakwah. Para ulama mencoba mengajarkan Islam melalui pendekatan bahasa. Sehingga banyak kata bahasa Indonesia yang berinduk dari bahasa Arab seperti adil, makmur, musyawarah, khitan dan sebagainya,” tandasnya. [kiblat.net]

Tinggalkan Komentar Dengan Bijak ya! Terima Kasih