Ini Kisah Guru Navy dan 12 Muridnya, Jalan Kaki Tepis Tuduhan Massa Nasi Bungkus

Keringat yang sempat membasahi sekujur tubuh Navy Hugo Max Sandhi (29) sudah kering, dibelai angin sepoi sekitaran Monas, Sabtu (1/12) sore. Sebelum azan zuhur berkumandang, dia sudah sampai di titik kumpul Monas, episentrum kegiatan Reuni 212 besok.

Hari ini, dari jam sembilan pagi, ia berjalan kaki dari kediamannya di Tanjung Priok. Guru di salah satu sekolah dasar itu memilih berjalan kaki bersama rekan-rekannya. “Ingin ikut untuk acara Reuni besok,” ujar guru mata pelajaran Bahasa Indonesia itu kepada CNNIndonesia.com.

Navy, biasa dia dipanggil, telah meminta izin kepada pihak sekolah ikut aksi besok. Dia mengatakan kedatangannya ke acara reuni bukan atas nama sekolah, melainkan atas nama pribadi dan sebagai umat Islam. Sekolah pun tak melarang, lantaran besok juga libur sekolah.

Baca Juga  Frustasi dan menemui jalan buntu! Rezim JOKOWI Berubah Jadi Pembela Ekonomi ASING

Selain dirinya, Navy mengatakan setidaknya terdapat 12 siswa di sekolahnya yang juga akan datang ke reuni tersebut. Keinginan murid-muridnya itu pun sudah disampaikan ke pihak sekolah.

Alasan Navy datang adalah panggilan jiwa. Dia ingin mencicipi apa yang dirasakan oleh massa aksi yang juga melakukan longmarch dari Ciamis beberapa tahun lalu. Selain itu, kata Navy, hal itu pun berkaitan dengan biaya yang hanya seadanya. Serta dia ingin membantah tudingan sebagai massa bayaran dan nasi bungkus.

“Dianggap jamaah yang dibayar, jamaah yang cuma dikasih nasi bungkus. Kami ingin buktikan tidak seperti itu kami,” ucapnya.

Tak hanya Navy yang melakukan longmarch, dia mengatakan, aksi jalan kaki juga akan dilakukan oleh ke-12 muridnya. Saat ini diketahui mereka sudah melakukan aksi jalan kaki tersebut menuju Monas.

Baca Juga  Pakai Rok Tampil Lebih Kekinian, Begini Tipsnya....

Alasan ke-12 muridnya itu pun dikatakan Navy, hampir mirip dengannya. Mereka disebutnya tersinggung karena dianggap sebagai massa bayaran. Baik Navy dan ke-12 muridnya itu pun diakui Navy sudah ikut aksi tersebut sejak awal diadakan yaitu pada 4 November 2016 hingga seterusnya.

Navy sempat menanyakan kepada murid-muridnya apakah ada paksaan atau tidak. Mereka mengaku tidak ada. Kepada Navy, mereka mengaku karena cinta pada agama.

“(Alasan murid) Yang pertama kami ingin merasakan apa yang saudara kita rasakan yang tempo hari jalan kaki dari Ciamis ke Monas, kami pun punya biaya apa adanya, kami pun masih hidup dari orang tua tapi satu kami cinta pada agama kami,” ucapnya.

Baca Juga  [Kisah Aksi 212] Allah Menolong Puluhan Pemuda Gresik Melalui Ibu Baik Hati

Tak ketinggalan, Navy pun membawa bendera berkalimat tauhid untuk ikut aksi tersebut. Dia mengatakan ke-12 muridnya pun akan membawa bendera tersebut. [cnnIndonesia.com]

Tinggalkan Komentar Dengan Bijak ya! Terima Kasih