Ketika Firaun Hibur Dahnil – Sebuah Ulasan yg Menarik!!!, tentang Akhir Tragis Sebuah Kezaliman!


Hendak dikesankan sebagai koruptor senilai Rp. 2 miliar. Memang menyakitkan, sampai istrimu pun turun berkomentar. Banyak orang (termasuk kau sendiri) yakin, dirimu sedang “dikerjai.”

Sabar, ya Bung! Dulu Muhammad SAW dituduh tukang sihir pemecah-belah bangsa. Bukan sekadar dituduh koruptor. Nuh, Hud, Musa dan para pengemban risalah lainnya pun mendapatkan nasib yang sama.

Oh, no! Memang terlalu jauh untuk menyamakan dirimu (apalagi diriku) dengan para Nabi dan Rasul. Ini cuma menyambung tali sejarah, bahwa ada risiko yang harus dihadapi ketika berseberangan dengan pemilik besi dan api.

Kau lebih beruntung. Mereka, para Nabi dan Rasul itu tidak memiliki follower yang jumlahnya ribuan bahkan jutaan. Adapun kamu, Bung, di seberang mereka yang mencemoohmu, masih banyak yang membelamu.

Baca Juga  Megawati Ingin Mundur, Siapa Yang Gantikan?

Mungkin sebentar lagi Drone Emprit mas IsmailFahmi mengudara, khusus untuk memantau lalu-lalang ”percakapan gaib”; lebih banyak yang pengin kamu tamat, atau banyak yang bilang kamu tokoh korban yang bakal melejit hebat.

Meski kamu jubir Prabowo, aku tidak sedang mengelu-elukan salah satu capres. Meski kamu komandan baret merah, aku bukan anggotamu yang bisa bilang, “Darah kami Muhammadiyah, Jendral!”

Tak harus ada kesamaan aliran politik atau organisasi untuk mengutuk sebuah tindak kezaliman. Cukup jadi manusia normal. Apalagi sebagai seorang Muslim.

Bagaimana tidak dianggap zalim. Tuduhan korupsi diarahkan kepada orang yang ditawari menjalankan program resmi pemerintah. Laporan penggunaan sudah dibuat.

Yang ditawari bukan hanya kau. Tapi pihak lain yang menerima uang lebih banyak, sama sekali tidak disentuh. Apakah karena kau Muhammadiyah yang sebentar lagi hendak bermuktamar, Dahnil?

Baca Juga  Jurnalis Barat: Hanya Mereka Yang Dungu Yang Menyebut Di Balik Terorisme itu Islam

Namun sepertinya kita tak perlu memenuhi langit negeri yang sudah sesak oleh sumpah serapah maupun rintihan ini. Tak akan bisa menembus hati maupun telinga yang terlanjur bebal.

Sudahlah, kalau kau sabar dan istiqomah, Bung. Jarak antara dirimu dan kemenangan hanyalah sebuah kesabaran. Meski hari ini masih sayup-sayup, kebenaran akan datang dan kemenangan hadir di pelupuk matamu.

Yang perlu dikhawatirkan sebenarnya bukan kamu, Dahnil. Sebagai seorang Muslim, kamu pasti punya keyakinan. Doa orang yang terzalimi pasti didengar oleh Yang Maha Kuasa.

Justru perlu kita resahkan adalah nasib orang-orang Islam yang berada di sekitar singgasana besi itu. Seperti para pemegang cemeti dan pengipas api. Yang turut merapalkan mantra-mantra licik dan dengki.

Baca Juga  MELESET!!! Polisi Bidik Dahnil di Kasus Menpora, Ehhh yang Kena Malah Muhammadiyah

Sejarah tak pernah lalai saat mencatat nasib akhir yang tragis para lakon zalim. Entah para pengikut, apalagi si rajanya. Mau dibikin liberal kayak apapun, rekaman Al-Quran tentang Firaun dan bala tentaranya akan tetap dikenang sepanjang masa.

Firaun ditentang Musa karena kezalimannya terhadap penduduk Mesir. Seharusnya, sekarang ini dia hadir untuk menghiburmu. Bercerita tentang akhir tragis sebuah kezaliman. [kiblat.net]

Tinggalkan Komentar Dengan Bijak ya! Terima Kasih