Terkuak Sudah 150 Ribu Poster “Raja Jokowi” dicetak Dijakarta, Alasannya Bikin Ngakak, Terinspirasi Jokowi Pakai Mahkota Raja saat Festifal di Solo! Terlanjur Sebut BLACK CAMPAIGN

Sekitar sepekan lalu, di Kabupaten Banyumas banyak ditemukan stiker dan poster yang belakangan dipersoalkan PDI Perjuangan (PDIP). Stiker dan poster bergambar Joko Widodo (Jokowi) mengenakan mahkota ala raja Jawa, terpasang di kaca angkutan umum, kendaraan pribadi, dan juga beberapa lokasi strategis.

Namun stiker atau poster tersebut, hanya terlihat menghiasi wilayah Banyumas tak lebih dari sepekan. Internal pengurus PDIP dan Bawaslu Banyumas, melakukan pembersihan poster tersebut dengan alasan masing-masing.

Internal PDIP melakukan pencopotan seluruh poster dan stiker tersebut dengan alasan antara lain menilai poster tersebut mendiskreditkan Jokowi dan bukan atas perintah partai mapun Tim Kampanye Nasional (TKN) atau Tim Kampanye Daerah (TKD). Sedangkan Bawaslu, melakukan pembersihan poster-poster tersebut karena dipasang di lokasi-lokasi yang dilarang menurut ketentuan tidak boleh terpasang APK (alat peraga kampanye).

Koordinator Divisi Penindakan Pelanggaran Pidana Pemilu Bawaslu, Saleh Darmawan menyebutkan, selama penertiban APK, Senin (12/11)-Selasa (13/11), ada sebanyak 1.428 APK yang diturunkan. Termasuk, APK berupa gambar atau poster gambar capres pejawat Jokowi yang mengenakan mahkota.

Dia tidak bisa menyebutkan berapa APK berupa stiker dan poster Jokowi Raja yang diturunkan. “Sesuai ketentuan, tugas Bawaslu hanya menurunkan poster/stiker yang dipasang di lokasi-lokasi yang tidak boleh dipasang APK. Bukan berdasarkan pertimbangan materi APK, karena Bawaslu Banyumas tidak menerima pengaduan dari PDIP soal kampanye negatif dari stiker gambar capres Jokowi tersebut,” jelasnya.

Berdasarkan pengamatan, sebenarnya tidak ada yang aneh dengan stiker atau poster bergambar Jokowi dengan warna merah tersebut. Di bagian kanan stiker atau poster terdapat foto capres Jokowi yang mengenakan mahkota raja yang biasa dikenakan pemain pertunjukkan wayang orang atau ketoprak.

Adapun di bagian kiri, terdapat logo PDIP berupa kepala banteng bermoncong putih dalam lingkaran. Di bagian atas stiker, terdapat tulisan ‘Ayo Kita Bekerja untuk Rakyat’.

Koordinator Divisi Pengawasan, Humas dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Banyumas, Yon Daryono, juga menilai, APK berupa stiker atau poster bergambar Jokowi itu secara meteri tidak bernuansa negatif. Kalimat yang tertera dalam poster tersebut juga dinilai wajar sebagai gambar APK.

“Secara materi, kami tidak melihat ada nuansa kampanye negatif. Tidak ada ujaran kebencian atau kalimat bernuansa SARA dalam poster capres petahana,” kata Yon.

Poster atau stiker bergambar ‘Raja Jokowi’ baru menjadi masalah ketika kalangan internal PDIP mempermasalahkannya. Mereka menengarai gambar stiker/poster tersebut dipasang oleh lawan politik mereka karena materi poster/stiker dianggap mendiskreditkan Jokowi.

Jajaran pengurus PDIP Jawa Tengah (Jateng) menegaskan, partainya tidak pernah mengintruksikan pemasangan poster atau stiker seperti itu. Instruksi juga tidak dikeluarkan oleh TKN atau TKD Jateng.

Baca Juga  Skak Matt.. Pengamat; Punya Rakyat, Fasilitas Negara Bukan Untuk Pencapresan Jokowi

Ketua DPC PDIP Banyumas Budhi Setiawan, menyatakan, sudah menelusuri asal muasal poster/stiker yang beredar di wilayahnya. Dari penelusuran itu, dia menyebutkan pemasang poster di wilayah Banyumas bernama Anggit dan Ade, warga Bumiayu, Kabupaten Brebes. Namun dia tidak menyebutkan, afiliasi politik Anggit dan Ade.

Pemeriksaan Gakkumdu

Belakangan, dari penelusuran yang diperoleh Republika, diperoleh gambaran lengkap mengenai peredaran poster dan stiker bergambar Jokowi tersebut. Berdasakan hasil pemeriksaan Gakkumdu Pemilu Banyumas, diketahui sebenarnya ada poster lain yang dipasang bersamaan dengan poster ‘Raja Jokowi’.

Satu poster lainnya yakni, poster berupa gambar capres pejawat Jokowi mengenakan peci warna hitam bersampingan dengan pasangan cawapresnya, KH Ma’ruf Amin. Di tengah poster tersebut, ada kalimat bertuliskan Selamat Maulud Nabi Muhammad SAW.

Pemasangan kedua poster di wilayah Banyumas, diketahui dilakukan oleh Nanang Nurrahman (36), warga Desa Karangklesem Kecamatan Pekuncen Kabupaten Banyumas. Dia melakukan pemasangan poster tersebut di sejumlah titik wilayah Banyumas, pada Sabtu (10/11) dan Ahad (11/11).

Nanang memperoleh poster-poster itu dari Ade Hermanus Sholeh (29) warga Desa Dukuhturi Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes dan Anggit Musonif Ardiansyah (29), warga Desa Pruwatan Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes. Seluruh poster disimpan di rumah kontrakan Ade, di Perumahan Tiara Ajimas Desa Ajibarang Kulon Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas.

Untuk pekerjaan pemasangan poster tersebut, Nanang mengaku mendapat bayaran Rp 5.000 per poster. Secara keseluruhan, Nanang diminta memasang sekitar 500 lembar poster/stiker dan dijanjikan akan menerima bayaran Rp 800 ribu, namun dia mengaku baru menerima bayaran Rp 300 ribu.

Nanang juga menyebutkan, dari proyek pemasangan poster/stiker tersebut, dia baru bisa memasang 60 lembar poster di beberapa wilayah Banyumas. Pemasangan poster tidak bisa dilanjutkan, karena kemudian diminta untuk dihentikan pemasangannya oleh internal PDIP.

Sebanyak 160 poster ‘Raja Jokowi’, kemudian diserahkan pada Bawaslu Banyumas dengan disaksikan oleh Ketua DPC PDI Perjuangan Banyumas Budi Setiawan, pada 11 November lalu. Sementara dari pemeriksaan Ade Hermanus Sholeh, diperoleh informasi bahwa yang bersangkutan mendapat poster ucapan Selamat Maulud Nabi Muhammad SAW dan ‘Raja Jokowi’ dari Reza Anjaya, konsultan tata ruang yang beralamat di Jalan Tebet Timur No 34 Jakarta Selatan.

Poster yang diterima diterima Ade sebanyak 3.310 lembar, berupa poster Selamat Maulud dan poster ‘Raja Jokowi’ masing-masing 1.665 lembar. Sebelum pemasangan poster, Ade mengaku mengikuti pertemuan yang diselenggarakan kelompok pendukung Jokowi bernama Relawan Ruang Publik yang berlangsung di Hotel Siliwangi Semarang, pada 8 November 2018.

Baca Juga  APK Sendiri Adja Kesulian, Sandiaga: Tak Masuk Akal Kami Cetak Poster 'Raja Jokowi'

Ade juga menyebutkan, materi pertemuan di Hotel Siliwangi diberikan oleh seseorang bernama Ahlan sebagai Koordinator Relawan Ruang Publik Jateng dan Reza Anjaya sebagai koordinator Relawan Ruang Publik Nasional. Salah satu materi yang disampaikan terkait pemasangan stiker dan poster capres Jokowi mengenakan mahkota dan poster capres-cawapres Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin mengucapkan Selamat Maulud Nabi Muhammad SAW.

Ade mengaku menerima poster ‘Raja Jokowi’ dan poster ucapan Selamat Maulud Nabi tiga hari setelah pertemuan di Semarang. Poster dikirim dengan menggunakan truk warna kuning dengan nopol dari wilayah Kedu (AA).

“Saat itu, saya menerima 3.310 lembar poster bergambar Jokowi bermahkota dan poster ucapan Selamat Maulud,” kata Ade. Seluruh poster disimpan di rumah kontrakan Perumahan Tiara Ajimas Ajibarang.

Setelah menerima poster, Ade melalui grup WA Ruang Publik, menanyakan soal biaya pemasangan poster. Saat itu, Koordinator Relawan Ruang Publik Jateng, Ahlan, akan langsung mengirim biaya tersebut. Ade mengaku menerima biaya pemasangan poster senilai Rp 22.700.000 melalui transfer di rekening banknya.

Dengan dana tersebut, Ade kemudian menghubungi beberapa temannya, termasuk Nanang, untuk memasang poster tersebut di berbagai lokasi wilayah Kabupaten Banyumas. Namun, belum sampai seluruh poster tersebut terpasang, muncul pemberitaan penolakan PDIP Jateng terhadap pemasangan poster tersebut.

Menyusul adanya polemik seputar pemasangan poster ‘Raja Jokowi’, Ade juga mengaku telah berkoordinasi dengan Ketua PDIP Banyumas Budhi Setiawan. Dalam koordinasi tersebut, Ade menerima instruksi untuk mencopot poster yang sudah terpasang, dan mengizinkan poster Jokowi-Makruf Amin mengucapkan Selamat Maulud tetap terpasang.

Terkait sisa poster tersebut yang tersimpan di rumah kontrakan Ade, anggota Panwascam Ajibarang, Nanang Anna Noor, mengaku sudah melakukan pemeriksaan di rumah kontarakan tersebut, Jumat (16/11). “Rumah itu sudah kosong, tidak ada lagi poster di rumah itu,” jelasnya.

Selain melakukan pemeriksaan terhadap pelaku pemasangan poster di Banyumas, pihak terkait diketahui juga telah melakukan pemeriksaan terhadap Reza Anjaya, selaku Koordinator Nasional Relawan Ruang Publik Nasional. Dalam pemeriksaan tersebut, Reza menyebutkan, kelompok yang dipimpinnya tersebut merupakan kumpulan kalangan pengusaha yang secara pribadi menginginkan Jokowi kembali terpilih kembali sebagai Presiden RI.

Dia juga menyebutkan, Relawan Ruang Publik ini sudah terbentuk di lima provinsi, antara lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah. Pendanaannya, diperoleh dari hasil swadaya pengusaha anggota Relawan Ruang Publik.

Reza mengaku, pertemuan di Hotel Siliwangi Semarang pada 8 November dilaksanakan atas inisiatif dirinya. Sedangkan, untuk pelaksanaannya diserahkan pada Ahlan, selaku Koordinator Relawan Ruang Publik Jawa Tengah.

Mengenai poster bergambar ‘Raja Jokowi’ dan poster ucapan Selamat Maulud, Reza mengaku mencetak di Jakarta sebanyak 150 ribu lembar. Poster sebanyak itu, didistribusikan di lima provinsi di mana kelompok Relawan Ruang Publik sudah terbentuk. Namun, untuk gambar poster mengenakan mahkota ala raja Jawa ini, hanya dipasang di Provinsi Jateng dan Jatim.

Baca Juga  Pernyataan Mengejutkan dari Ketua SC Piala Presiden Maruarar Soal Insiden Anies

Selain poster, Reza juga mengaku telah mencetak 21.500 stiker Jokowi Raja, sebagai bentuk branding kampanye. Stiker tersebut dipasang pada kaca bagian belakang kendaraan angkutan kota dan koperades di lima provinsi.

Dia juga menyebutkan, latar belakang pemasangan poster foto Jokowi mengenakan mahkota Jawa, karena Jokowi pernah memakai mahkota tersebut pada suatu acara festival di Solo. Tepatnya, saat Jokowi masih menjabat sebagai wali kota Solo.

PDIP: Poster ‘Jokowi Raja’ Jurus Baru Black Campaign

Poster Presiden Joko Widodo yang mengenakan mahkota bagai seorang raja terpasang di Purworejo, Jawa Tengah. Poster tersebut telah dicabut oleh kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) karena merupakan atribut liar.

Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto menegaskan, atribut kampanye yang beredar di Jawa Tengah tersebut adalah modus black campaign gaya baru.

“Atribut itu seolah mendukung kami, padahal bersifat black campaign. Dari aspek estetika, komunikasi politik, daya imajinasi, dan teknik kampanye, atribut bergambar PDI Perjuangan dan Pak Jokowi yang terpasang tersebut bukan kami,” jelasnya dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (13/11).

Menurut Hasto, ada pihak yang sengaja memalsukan atribut kampanye tersebut dengan niat mendiskreditkan PDI Perjuangan. Hal ini dianggapnya tidak terlepas dari hasil survei yang selalu menempatkan PDI Perjuangan dengan elektabilitas tertinggi.

Akhirnya, ada kekuatan-kekuatan tertentu yang sengaja melakukan ini agar elektabilitas PDI Perjuangan turun. “Ini cara-cara yang tidak sehat dalam demokrasi,” tegas Hasto.

Menurut Hasto, Jokowi memiliki kepemimpinan yang merakyat sehingga apa yang digambarkan oleh alat peraga kampanye (APK) liar tersebut tidaklah sesuai.

“Kami sudah mempersiapkan atribut asli kami, yang mengedepankan kepemimpinan merakyat Pak Jokowi dengan pendekatan soft campaign. Berdasarkan survei internal yang kami lakukan, publik menangkap ada apresiasi positif dimana Bung Karno, Ibu Megawati Soekarnoputri, Pak Jokowi dengan PDI Perjuangan merupakan satu kesatuan napas perjuangan,” ujarnya.

Dia mengatakan, PDI Perjuangan juga mengucapkan terima kasih atas kerja cepat kader Partai bersama dengan masyarakat untuk melaporkan APK liar tersebut. Setelah berkoordinasi dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), APK juga akhirnya telah diturunkan.

Dengan ini, PDI Perjuangan juga sedang mempertimbangkan langkah hukum atas pemasangan APK tersebut oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. [republika.co.id/merdeka.com]

Tinggalkan Komentar Dengan Bijak ya! Terima Kasih